Sabtu, 01 Desember 2012


Teringat, saat saya merindukan seorang yang ingin dipanggi dengan Panggilan Ayah oleh saya.Bagai mana tidak, saat itu saya baru berusia 3,4 tahun. Ya saya tinggal dengan nenek & kakek saya,di daerah Subang yang sangat jauh sekali dengan orang tua/saudara kandung saya (dulur) di Bandung.Setahun sekali setiap moment/suasana hari raya idul fitri, dulur selalu berkunjung ke Rumah nenek/kakek ya otomatis menengok aku, yang tingal jauh dari dulur.Aku tahu mereka/dulur adalah ayahku, ibuku, kakak2 ku, dan adik ku. Tp entah lah aku merasa dulur adalah orang asing bagiku, meskipun kadang aku suka nangis ketika dulur akan kembali ke Bandung dengan Mobil Gerobak/kolbuntung (bahasa Sundanya) kadang aku juga cuma melambay kam tangan (dadah) pada dulur ketika mereka akan pulang ke Bandung.Yah aku tidak tahu apa itu saudara, dan apa itu keluarga? Yang aku tahu aku tinggal bersama kakek/nenek ku, dang bagiku merekalah yang mengurus saya, dan uwak (kakak ibu/ayah dalam Bahasa Sunda) yang membiayai saya sepenuh nya.Sungguh beuntung nya saya memiliki se orang Uwak (Ece Hasanudin bin Ahmad) dia yang mengasihiku, menyayangiku, membelaku, dan mengajariku juga tentang bertahan untuk Hidup, yah. Waktu itu aku masih Balita, rasanya percuma saja, , , tapi ternyata Uwak benar, kata-katanya, membekas di hatiku, tersimpan Rapih, sejak dulu (waktu saya kecil) aku ingin sekali seperti Uwak, bahkan aku sering dan selalu meniru dari cara dia bicara, makan, marah, dang segala yang Uwak lakukan aku selalu ingin menirunya, aku merasa uwak itu sempurna.Aku merasa Uwak tak pernah membuat ku kekurangan, dan tak pernah membuatku mengenal apa itu air mata, tangisan, dan kemiskinan.Aku merasa uwak adalah tuhan.Begitu lah seterusnya.6.TAHUN Kemudian. . . .Ketika ku duduk di bangku kelas 4.SD.Aku di bawa pulang ke Bandung untuk tinggal bersama dulur selamanya.Ternyata gaya hidupku, pola hidupku, pergaulan, lingkungan dan orang-orang sekitar, beda dan sangat signifikan.Karna di rumahku di Bandung, aku aku bukan anak tunggal.



Yah, aku harus melupakan kehidupanku di Subang. Dan harus membiasakan hidup seperti saudaraku disini (Bandung) bagai mana tidak, pergi kesekolah melewati pesawahan yg becek dan agak terjal. Orang2/teman2 yg not Friendly, dan harus berebut tempat tidur, barang2, mainan, bahkan kasih sayang dan perhatian orang tua, apalagi ayah yang sangat dingin sekali kepada anak2-nya. Kecuali kakaku (yang usianya 2.tahun diatas aku) yah kakakku selalu di ajak kemanapun ayah pergi ke pengajian, dan berziarah ke makam2 para wali di tanah sunda ataupun di Pulau jawa dan madura.

Sering kali aku menangis agar di ajak, tapi sia2 saja airmata dan teriakan tangisku krna tetap saja kakaku yang di ajaknya.

Aku juga sering bernakal-nakalan untuk mencari perhatian ayah. Tetap saja tak membawakan hasil. Sampai aku menyerah.

Rasanya aku ingin kembali ke Subang Hidup bahagia, serba berkecukupan tanpa harus berebut untuk mendapatkan sesuatu.

Tapi sayang sekali semua itu hanya masa lalu dan hanya bisa ku rasakan di saat ku pejamkan mataku.

Sering sekali aku berharap secepatnya uwak menjemputku, membawaku kembali ke kehidupanku 6.tahun yang lalu.

Tapi sayang semua hanya angan2 belaka. Dang tak pernah terwujud sampai akhirnya uwak ku wafat, ketika ku berusia 11.Tahun tanpa ku melayadnya dan ku bersedih. Ya aku sangat sedih berduka cita yang sangat mendalam. Seakan sirna dan musnah harapan dan hidupku.

Bukan karena aku mencintainya, menyayanginya.

Tapi karena aku kehilangan Tuhan, ya uwak sudah ku anggap tuhan ku. Karna tak pernah melukai hati dan perasaanku. Dan uwak selalu menjagaku dan mencukupi segala kebutuhanku.

Tapi kenapa?? Kenapa harus wafat.? Lalu siapa yang akan menggantikan Uwak sebagai tuhanku. Oh tidak, uwak kau bukan Tuhan ku, tuhan tak mungkin meninggalkan umatnya, tuhan tak mungkin wafat, Tuhan maha penguasa tak Mungkin di kuasai.

Ya, aku Yakin uwak, kau Bukan lah Tuhan, kau Bukan Tuhan "teriakan hatiku penuh tanya"



akhirnya 15.Tahun kemudian barulah aku tahu siapa Tuhan itu, ya itu Alloh Swt. Itupun belum ku kenal



Aku belum mengenalmu tuhan (ALLOH SWT) dengan sesungguh nya, aku hanya mengetahui namamu saja, itupun karna sering mungkin aku mendengarnya. Ya Alloh engkau lah Tuhanku, tuhan uwak ku, dan Tuhan seluruh alam semesta, dan seluruh makhluk Ciptaan mu. Tiada yang bisa melebihi kekuasaan mu.

Yah uwakku bukan tuhan dia hanyalah makhlukmu yang biasa, yang memiki kelemahan, kekurangan, kebuthan, ketakutan dan kesalahan.

Ampunikah aku yang mempertuhankan, uwakku, harta, ke senangan, dan lainnya. Karena sesungguhnya engkaulah Alloh Tuhan sang pencipta, yang menciptakan semuanya yang terlihat ataupun tidak terlihat.

Namun, akan tetapi ku mohon bahagiakan, lindungi, dan selamatkan uwaku, dimanapun berada.

sebagai mana uwak melakukan nya padaku di Waktu hidupnya.

Uwakku bukan orangtuaku tapi dia mampuh berdiri di atas orangtuaku.

Ku hapus kekufuranku karna telah mempertuhankan uwakku, dengan penuh kesyukuran kepadamu ya Alloh. Karena telah memberi anugrah melalui uwakku.

Dan Ampunilah dosa2, uwakku, orangtuaku, saudaraku, sahabatku, dan orang2 yang bejalan di jalanmu.

Tiada yang mampu mewujudkan semuanya kecuali dengan ijin mu, ya Alloh.



Selamat jalan uwakku semoga kau mendapatkan tempat yang mulia di akhirat sana amien.

Doaku, dan kenanganmu akan abadi sepanjang Hayatku dikandung Badan

0 komentar:

Poskan Komentar

BTemplates.com

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.

Owner Blog

Salam Persahabatan, dan Salam persaudaraan.
terima Kasih Anda telah berkunjung/membaca artikel saya, kebanyakan postingan di Blog Farid Aslam ini adalah hasil karya saya, namun ada beberapa yang saya rangkum, atau saya Kumpulkan dari berbagai sumber. dan ada juga yang Sahabat kirim melalui Email, ke pada saya untuk di Posting di Blog ini. Dan Sahabat juga boleh mengirimkan Cerita (fiksi, ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, Agama Islam dan lainnya), semuanya akan saya tampung di Blog saya ini.
sekian dan Terima kasih jadilah Manusia yang berguna bagi sesama.
wassalam
Manusia Paling amat sangat Fakir akan Rahmat Robb

Translate

Popular Posts