Selasa, 09 Juli 2013


  Pernah mendengar atau membaca kalimat diatas? Kalimat itu saya ambil dari sebahagian ayat alQuran, dan juga dari hadist. Mungkin nyambung atau tidak, karena Saya akan berbagi sebuah kisah. Ini adalah bukan  kisah hidup saya, namun menurut saya sangat menyedihkan, dan semoga ada hikmah yang bisa kita ambil sebagai pelajaran hidup dari kisah yang akan saya ceritakan.  Sebenarnya ini sebuah kisah nyata, karena saya melihat meskipun tidak sepenuhnya  dengan mata kepala saya sendiri, semua kisah yang akan saya tuangkan ke Blog farid aslam ini, namun saya juga telah banyak mendengarkan begitu banyak kisah sahabat (seagama) saya ini, saya juga telah meminta izin “cuman tidak tau dia setuju apa tidak”.
Demi untuk kerahasiaan rumah tangga sahabat saya, mungkin akan ada beberapa  hal dalam kisah ini akan sara ubah, namun tetap tema dan maksudnya adalah untuk kebaikan, lagipula saya akan mebicarakan sebuah kisah untuk mengambil hikmah dan pelajaran, bukan menceritakan aib atau  celah sahabat saya. Semoga saja bermanfaat.
Sahabat saya pernah  bercerita  seperti ini “ se keras apapun ujian dan cobaan rumah tangga kami, saya selalu membuatnya tidak akan pernah cekcok demi anak saya yang tercinta, namun sebisa mungkin saya selalu membuatnya agar tidak menjerumuskan baik itu keluarga saya, maupun kehidupan saya” (diri sendiri).
Cerita ini di mulai Pada hari Ibu,  ya  semua orang banyak yang merayakan Hari Ibu dengan berbagi kebahagiaan kasih sayang bersama  sang ibunda tercinta,  dan begitupun dengan saya, diam-diam saya pergi ke rumah Ibunda saya, tanpa sepengetahuan isteri saya. Saya beralasan ada meeting dengan klien. sebenarnya saya juga bingung, karena sore itu punya  acara sama isteri, namun mau bagaimana lagi. Bagaimanapun juga  Ibunda yang telah melahirkan dan merawat saya tanpa pamrih, dan memang surga saya ada di bawah telapak kakinya, juga ridhonya adalah ridho Alloh juga.
Saat itu Saya seakan dikejar-kejar waktu, disatu sisi saya senang karena telah mencurahkan rasa bakti dan cinta saya kepada Ibunda saya, namun di sisi lain saya merasa berdosa kepada isteri saya karena harus berbohong. alhamdulillah isteri saya tidak mencurigainya, “maafkan saya isteriku” guman hati kecil saya merasa berdosa kepada isteri saya.
Waktu itu saya sempat melihat dia tweet di Twitter isteri saya “kami juga punya acara Boss”. Saya yakin itu ungkapan kekesalan isteri saya karena  acara kami tercancel/pending. Saya hanya bisa tersenyum dan menyesalinya, karena harus membatalkan sepihak acara saya dengan isteri saya hari itu.
Tapi saya sangat bersyukur pada hari itu, karena  Alloh menolong saya dengan cepat, sore harinya saya pulang dari Rumah Ibunda saya,meskipun hanya sebentar dan dengan terburu-buru, karena saya masih lebih memilih Isteri daripada Ibu “astagfirulloh hal Adzim’ guman hati saya sambil mengelus dada ketika saya ingat kalo saya lebih memilih isteri dan anak-anak ssaya daripada  Ibu saya sendiri.
dan alhamdulillah dengan izin Alloh sya juga bisa ngumpul denbgan keluarga saya sore harinya lalu saya menonton dengan iateri saya.
Sebenarnya saya ingin sekali mengajak isteri saya berkunjung ke rumah Orangtua saya, namun hal itu belum bisa mungkin untuk saat ini, isteri saya sudah tidak mau lagi berkunjung ke Rumah Ibu saya (orangtua saya) semenjak ada percek-cokan rumah tangga kami beberapa Bulan yang lalu, saat itu saya meninggalkan Rumah dan bermalam di rumah Orangtua  saya beberapa hari. Memang saya lebih memilih untuk meninggalkan Rumah jika ada beberapa masalah Rumah tangga kami yang tidak bisa cepat di selelsaikan, selalin untuk menjernihkan pikiran saya juga beranggapan  seorang isteri meninggalkan Rumah itu tidak baik.
Mungkin sejak saat itu isteri saya berperasangka kalau dia sudah tidak di terima lagi di keluarga saya, padahal itu hanya perasangka dia saja.  Karena bagaimanapun juga Orang tua saya selalu memafkan kesalah saya dan juga keluarga saya, saya sudah beberapa kali menjelaskannya dan  Bahkan saya sudah menasehati isteri saya kalau semuanya itu hanyalah perasaan isteri saya saja,  namun isteri saya tetap tidak mau dan keras kepala. Sejak kejadian itu isteri saya sudah menganggap kalau dia sudah cerai dengan keluarga saya. Saya memang sangat bingung dan bagaimana tidak,  saya harus berbakti kepada orang tua yang tanpa pamrih merawat dan menyayangi saya sepenuh hati, karena Ridho Tuhan ada pada ridho Orangtua saya, termasuk Ibu saya, di sisi lain saya juga harus mempertahankan Rumah tangga saya agar selalu utuh karena saya telah memiliki 2 anak laki-laki yang masih kecil, masih membutuhkan kasih sayang dan bimbingan orang tuanya (contoh yang baik). Saya sudah mencoba menjelaskan kepada isteri saya kalau orang tua saya kangen sama anak-anak kami, dan juga ingin bertemu dengan isteri saya, namun dia tidak mengerti, dan memangdia agak keras kepala.
Tidak ada yang bisa saya lakukan hanya berdoa kepada Alloh semoga saja semuanya ini cepat berlalu, dan smoga saja hati isteri saya lunak, karena hanya Allohlah yang mampuh membolak-balikan hati dan perasaan, karena Allohlah yang maha kuasa.
Karena kejadian ini sudah lama sayapun selalu mensiasatinya dengan sering mengunjungi orangtua saya dengan diam-diam tanpa sepengetahuan isteri saya. Sepintar-pintar saya saja, jika berbagi dengan orang tua, baik itu materi, ataupun kasih sayang dan perhatian. Dan alhamdulillah saya juga selalu ada sedikit banyak rejeki untuk mengasih uang kepada Orang tua saya, karena sering kali saya tidak memegang uang satu sen pun.
Kadang Saya selalu berpikir mungkin suatu saat memang  harus memilih antara Orang tua atau Keluarga (anak dan Isteri), namun saya tidak bisa memilih, karena semuanya itu penting bagi saya. Mungkin yang harus saya laukan hanyalah berdoa dan berusaha, karena saya yakin Alloh selalu memberikan yang terbaik untuk Hambanya.
Meskipun Kadang saya berpikir mungkin kalau belum memiliki anak-anak saya bisa ambil keputusan yang tegas, tanpa harus bimbang, namun saya tidak sanggup jika keputusan saya ini akan di tanggungkan kepada anak-anak kami.
Sekali lagi Saya hanya bisa berdoa kepada Tuhan agar memberikan yang terbaik bagi kami semuanya.
Cerita di atas memang bukan kisah President Blog Farid aslam (penulis) ini, namun saya berani menjamin bahwa semua cerita ini hanya fiktif belaka, namun di ambil dari kisah nyata beberapa orang teman saya. Semoga bermanfaat dan ada hikmahnya untuk para pembaca.

0 komentar:

Poskan Komentar

BTemplates.com

Facebook  Twitter  Google+ Yahoo

Google+ Badge

Diberdayakan oleh Blogger.

Owner Blog

Salam Persahabatan, dan Salam persaudaraan.
terima Kasih Anda telah berkunjung/membaca artikel saya, kebanyakan postingan di Blog Farid Aslam ini adalah hasil karya saya, namun ada beberapa yang saya rangkum, atau saya Kumpulkan dari berbagai sumber. dan ada juga yang Sahabat kirim melalui Email, ke pada saya untuk di Posting di Blog ini. Dan Sahabat juga boleh mengirimkan Cerita (fiksi, ilmu pengetahuan, pengalaman hidup, Agama Islam dan lainnya), semuanya akan saya tampung di Blog saya ini.
sekian dan Terima kasih jadilah Manusia yang berguna bagi sesama.
wassalam
Manusia Paling amat sangat Fakir akan Rahmat Robb

Translate

Popular Posts